Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2008

Donor Darahdsc00218.jpgcopy-of-s6000321.jpg

Blog ini di buat untuk tukar menukar informasi.Mudah-mudahan blog ini dapat menjadi media positif sebagai ajang silaturahmi, tukar menukar pendapat, pengalaman dan menjalin persaudaraan antar sesama biker dimana pun berada.

Iklan

Read Full Post »

Ada anggapan bahwa seseorang yang fanatik akan sebuah merk adalah seseorang yang buta akan informasi ataupun perkembangan teknologi. Anggapan tersebut bisa saja benar, tetapi bisa saja salah. Tergantung dari situasi dan kondisi serta fungsi motor itu sendiri. Berikut beberapa alasan yang menyebabkan seseorang menjadi fanatik brand/merk dari berbagai sudut pandang.

Fanatik Karena Faktor Sugesti

Faktor ketidak tahuan menjadi penyebab seseorang menjadi fanatik seperti ini. Namun tidak juga mengesampingkan faktor dimana produk tersebut sebelumnya telah berhasi memproduksi sebuah produk yang luar biasa sempurna sehingga menjadi sebuah benchmark tersendiri. Gaung kehebatan produk tersebut ternyata sangat luas bahkan sampai membayangi produk suksesornya. Bahkan untuk kalangan konsumen awam nama besar produk tersebut menjadi sebuah nilai plus hingga dapat membuat konsumen tersebut mengesampingkan faktor lain semisal performa sebagai nilai pembanding. Produk yang memiliki penggemar fanatik dalam kategori ini tak lain adalah Honda. Namun kemampuan produsen menjaga mutu produk merupakan faktor vital tersendiri, termasuk juga menjaga nilai jual kembalinya

Fanatik yang menjadi sebuah Brand Cult

Fanatik yang seperti ini merupakan fanatik yang sulit di ganggu gugat. Biasanya fanatik seperti ini menjangkiti bikers yang telah mapan, terutama secara ekonomi. Umumnya bagi bikers yang sudah berada pada tingkat fanatik seperti ini mereka tidak akan memikirkan faktor ekonomis, tetapi bagi mereka motor dari brand tersebut adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup mereka karena antara bikers dan motornya memiliki sebuah ikatan emosional. Biasanya brand yang telah menjadi sebuah Cult adalah berasal dari Amerika dan Eropa semisal Harley-Davidson, BMW Motorrad dan Ducati. Sebagai tambahan biasanya justru bikers seperti ini malah terbilang jarang menggunakan motor kesayangan mereka sebagai kendaraan oprasional harian, dan cenderung menggunakan kendaraan lain sebagai alat transportasi utama. Mmm Bikers apa bukan sih

Fanatik Karena Warisan Turun Temurun

Biasanya, fanatik brand seperti ini hanya terjadi bila seorang bikers memiliki hubungan yang erat dengan orang tuanya. Ditambah lagi para “leluhurnya” memiliki tangan dingin dan apik dalam merawat sepeda motor kesayanganya. Tidak aneh bila menemukan motor yang sama telah berpindah sampai tiga generasi dalam kondisi sempurna. Umunya motor yang paling sering menjadi motor warisan adalah dari jenis Piaggio Vespa. Classic!

Fanatik Karena Ciri Khas Tertentu

Bila sebuah brand memiliki ciri khas tertentu semisal Performa ataupun reabilitas, maka konsumen akan memilih brand tersebut di banding brand lainya, meski brand kompetitornya menawarkan performa maupun harga yang lebih kompetitif umumnya konsumen tetap memilih brand tersebut. Disamping itu, dengan memiliki ciri khas tersebut secara tidak langsung brand motor tersebut memiliki daya getar lebih dibanding brand motor lainya. Di indonesia brand Kawasaki dan Yamaha menjadi contoh paling jelas.

Sisi Positif dan Negatif Fanatik Terhadap Suatu Brand

Apapun bila dilakukan secara teratur dan tekun pastinya akan membuahkan hasil. Sama seperti seseorang yang secara konstan menggunakan sebuah produk dari brand yang sama. Faktor pertama adalah bikers tersebut akan memahami seluk beluk motor tersebut, baik dari karakter mesin maupun cara merawat motor tersebut secara efisien dan praktis. Faktor kedua adalah kepuasan dan ikatan emosional antara bikers dan motornya. Akhirnya sebagai mana pasangan suami-istri seorang bikers dan motor dari brand tersebut menjadi sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Ikatan emosional seperti ini membuat bikers tersebut akan lebih merawat motornya secara maksimal.

Bila sebuah produk tidak lagi mampu menawarkan keunggulan dibanding produk lainya, sepertinya bikers tersebut seharunya tidak lagi menggunakan motor dari brand tersebut. Apalagi bila disangkut pautkan dengan faktor ekonomis dan efisiensi. Tetapi karena tingkat kefanatikan dengan brand tersebut cukup tinggi bukan tidak mungkin walau sudah tidak kompetitif produk dari brand tersebut masih terus digunakan. Effeknya adalah disamping pemborosan dan dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan konsumen dalam memilah dan menilai sebuah produk. Tergantung dari mana melihatnya sih

Read Full Post »

Beberapa hari lalu saya membaca artikel di Internet bahwa di dunia saat ini ada sekitar 32 juta blog, dan jumlah itu akan terus bertambah.

Namun, menurut artikel itu hanya sebagian kecil dari jutaan blog itu yang worth to read, sisanya disebut sebagai hasil dari people who need to go out more.

Kenyataan itu dikatakan oleh The Times karena dengan punya blog tidak otomatis menjadikan seseorang menjadi good writer.

Meskipun blogging bisa menjadi sarana untuk belajar menulis.

Saya ingat komentar seorang blogger, “Bagaimana pun akan kelihatan blog yang dibuat oleh seorang yang biasa/bisa menulis,” katanya yang sering membuatnya minder sebagai seseorang yang tidak biasa menulis.

“Nggak bisa menulis juga tidak apa-apa, justru dengan blogging membiasakan diri untuk menulis, “saya menjawab saat itu.

Jangankan blogger amatir seperti saya, Jacob Oetama, orang nomor satu Kelompok Kompas Gramedia, mengatakan bahwa wartawan Kompas banyak yang belum bisa menulis.

Sementara Goenawan Mohamad dari Grafiti Pers, yang menguasai kelompok Tempo dan Jawa Pos, mengatakan ia tak pernah punya “lebih dari 10 orang penulis” di majalah Tempo. (andreasharsono.blogspot.com)

Tentu banyak blogger yang tidak setuju dengan artikel The Times itu, bahkan mungkin tersinggung disebut sebagai need to go out more.

Setelah membaca artikel itu saya merenung, apakah saya termasuk dalam kategori people who need to go out more, yang tidak punya kerjaan lain yang lebih penting atau friendless, tidak punya banyak teman?

Saya mengerti benar keberadaan blog, dan termasuk yang mengenal blog di awal-awal teknologi blog itu muncul.

Beberapa kali saya membuat blog, karena memang ia senang mengutak-atik sesuatu yang berhubungan dengan komputer/internet.

Tapi sebatas itu saja, membuat blog. Ia biasanya akan begadang satu atau dua malam, voila terciptalah blog baru.

Namun ia tidak akan meneruskan blognya itu. Bukannya tidak ingin tetapi tidak punya waktu untuk ngeblog, apalagi kalau sudah menyangkut blogwalking.

Dari mulai jalan-jalan/spending time dengan anak-anak hingga kegiatan-kegiatan lain yang kadang justru membuatku lebih sibuk .

Benar juga, saya pikir. Dimana punya waktu untuk blogging apalagi blogwalking.

Meskipun saya tidak terputus sama sekali dengan dunia blog, ia masih membaca beberapa blog dalam kapasitas sebagai ‘mencari/mengikuti informasi’ seperti halnya ia membaca koran/majalah atau menonton TV.

Karena itu saya membatasi membaca blog yang berkategori worth to read. Ia, dengan ketrebatasan waktu yang dimiliki, tidak bisa menempatkan blog sebagai sarana ‘mencari teman’.

Jangankan mencari teman baru di internet, dengan teman yang di alam nyata saja stuggling untuk terus bersilaturahmi atau sekedar keep in touch“,

Ketika berada di Jakarta tahun lalu seorang teman mengirim SMS,yang cukup mengagetkan, berupa keluhan atas temannya yang lain, “Istriku tersinggung, masa sih dia tidak punya waktu nemenin dia belanja untuknya , tapi malah sibuk kopdar dengan teman-temanya di internet yang cuma ia kenal lewat shoutbox”.

Teman yang mengirim SMS itu juga seorang blogger, bagaimana dengan teman-teman kita yang bukan blogger?

Kalau tidak punya waktu di luar jam kantor, bagaimana dengan blogging di jam kantor, banyak kok yang blogging dari kantor? Tanya saya pada temen,masih mencari alasan untuk membuktikan he just lazy.

I don’t know how they do it, tetapi saya tidak punya waktu untuk blogging di kantor,”jawabku.

Aku justru heran dengan orang yang bisa blogging di kantor, “Apa dia tidak punya kerjaan di kantor?”dan “Tidak kah mereka merasa bersalah, digaji tapi tidak bekerja?”

Point taken.

Bagus bagi kita yang punya waktu dan sarana untuk terus blogging. Namun jangan membuat kita mengorbankan aktivitas/kewajiban yang lain,keluarga,teman, atau pun tetangga.

We don’t owe anyone anything, kita mau blogging atau tidak atau kita mau up date blog kita atau tidak.

Kita tidak perlu merasa bersalah jika every now and then menghilang/cuti dari dunia blog atau ‘menelantarkan’ blog kita.

Setiap kali saya tahu seseorang pamit sejenak dari blogging, saya justru senang, artinya dia punya sesuatu yang lebih penting dari sekedar blogging.

Menghilang tanpa pamit pun tidak apa-apa.

Karena itu, sejak dulu saya senang jika sebagian besar teman-teman saya tidak blogging. Saya terselamatkan dari kemungkinan menjadi sumber cerita di blog mereka, juga more importantly saya senang mereka tidak termasuk people who need to go out more.

Meskipun saya juga senang banyak teman saya yang blogging.

saya tidak blogging bukan karena lazy, begitu juga teman-teman saya,tidak blogging bukan karena malas dan bukan pula karena mereka buta teknologi blog.

And definitely mereka tidak blogging bukan karena tidak bisa menulis.

Administrator :

Read Full Post »