Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2009


Jadi bikers di Indonesia, khususnya kota besar macam Jakarta, Surabaya, Medan memang banyak seninya. Misalnya, saat keluar dari padatnya lampu merah. Gas pol dan seenaknya ambil jalur.

lmpu2

Kasus senggolan antar bikers begitu lampu merah berganti hijau sering terjadi. Bisa-bisa mampir ke rumah sakit. Untuk itu, ada beberapa jurus yang bisa dilakukan untuk menghindari.

Pelajari gerak-gerik pengendara lain. Jangan macam pembalap lihat lampu start. Sampeyan nggak bakal dapat piala atau kangtaw. Sabar sedikit lihat arah motor. “Kita harus tahu jalur mana yang akan diambilnya,” kata Joel Deksa Mastana, instruktur safety riding.

Memahami kemauan orang lain bukan perkara mudah. “Kalau mereka menyalip jalur, sebaiknya kita bertahan dengan memperlambat motor,” lanjut instruktur berambut lurus ini lagi.

Begitu juga dengan jalur kita sendiri. Kalau padat, ambil lurus saja. Jangan zig-zag. Ingat, ugal-ugalan sangat berisiko. Menyalip atau pindah ‘racing line’ intip dulu posisi belakang.

Jika dirunut lagi, perilaku mengambil posisi lewat garis putih di lampu merah jelas melanggar aturan lalu lintas. Motor mesti sabar antre di posisi kiri. Sekali lagi, di posisi kiri, Bro!

Kadang memang banyak hal yang membuat kita enggak tahan untuk segera maju. Tapi sekali lagi ingat untuk selalu tertib di jalan dan mencoba mengedepankan safe. Ingat, tidak ada pemenang atau juara di jalan raya!

Sumber: Motor Plus

Iklan

Read Full Post »

Ayo ngaku! Banyak brother nggak begitu nganggep penting spion. “Estetika masih jadi pertimbangan utama ketimbang fungsi. Tapi buat gue penting kok, apalagi yang kanan.

“Dalam padatnya lalu lintas, spion pabrikan yang panjang malah ganggu. Bisa ‘nabrak’ mobil atau senggolan dengan bikers lain.

clip_image0012

“Spion part dari motor yang dibutuhkan untuk kenyamanan (comfortable) dan keamanan (safety). Masuk komponen fungsional dan bukan variasi,”

“Pembuat spion masih lalai soal pertimbangan ergonomis (comfortable & safety). “Sayang fungsinya bergeser menjadi pemanis tampilan,
bikers berhak memperoleh kenyamanan dan keamanan sesuai aturan lalu lintas. Khusus spion, rider harus mampu melihat belakang dengan leluasa dalam posisi normal. Kemampuan melihat kaca spion dalam posisi kepala tegak lurus menghadap ke arah depan, tanpa harus menoleh atau memposisikan kepala.

“Umumnya manusia dapat melihat secara normal tegak lurus ke arah depan sekitar 10o ke arah atas dan bawah, serta 15o ke arah kiri-kanan. Ini disebut garis penglihatan normal (normal sight line).

Areal itu tergabung dalam zona optimum untuk posisi part yang berkaitan dengan aspek visual yang kritis atau harus selalu terlihat. Zona ini sangat baik untuk lokasi spion. Toleransi maksimum untuk peletakan spion ini sekitar 30o dari posisi kepala tegak lurus (standard sight line).

Jadi menurutnya, letak spion yang memenuhi persyaratan ergonomis minimal berada pada zona pandangan visual non kritis (sekitar 30o dari posisi mata normal). Makanya perlu diatur sudut pandang yang tepat.

“sekitar 50 persen jangkauan pantau spion yang benar-benar dipakai untuk melihat posisi belakang. Sisanya, terpakai oleh pantulan bayangan bahu pengendara.ada perbandingan dari beberapa produk. Mewakili bebek dan skubek ia menilik Suzuki Spin 125 dan Kymco. Sedang di motor laki, dipakai sample Honda Mega Pro dan Suzuki Thunder.

Spin 125 diposisikan sejajar dengan handel. Posisi ini mengakibatkan area pantau berfungsi sekitar 50-60 persen dan sisanya terpakai oleh bayangan pantul bahu pengendara. Desainnya diusahakan lebih melebar ke samping sehingga dapat menjangkau pantauan ke arah belakang lebih luas.

Untuk kondisi ini diperlukan kesabaran pengendara mengatur sudut dan posisi spion agar diperoleh jangkauan terhadap objek pantau itu. Kymco menurut Edi terletak lebih luar dari garis tepi setang kendali. Memungkinkan mendapatkan area pantau lebih luas. Kemungkinan terhalang bahu atau tangan pengendara cukup kecil.

“Mereka memandang penting spion sebagai bagian integral motor untuk keperluan fungsional, nyaman dan safety.

Di motor laki, Mega Pro dipasang sejajar dengan handle hingga area pantau mencakup 50-60 persen juga. Tapi desainnya mengejar bentuk spion yang mampu mengakomodasi objek pantau yang lebih luas dengan menambahkan bagian bawah suatu sudut untuk pantauan vertikal. “Posisi Thunder sama dan mencakup area pantau 50-60 persen juga. Desainnya lebih melebar ke samping, sehingga menjangkau ke belakang lebih luas.

Makanya rider harus jeli dan seksama mengatur posisi agar diperoleh jangkauan ideal. “Bila dicermati, spion Suzuki Thunder sama dengan Suzuki Spin 125.

Sebagai penutup demi kesadaran bikers. “Jangan karena ingin ringkas dan minimalis lantas mengganti spion pabrikan dengan variasi yang lebih kecil. Lembaga perlindungan konsumen dan polisi juga lebih giat lagi mengkampanyekan spion ideal pada pengguna motor.

Sumber : Motor Plus

Read Full Post »