Feeds:
Pos
Komentar

Kekuatan Komunitas

Di kutip Dr Om Saft..Hampir setiap model dari berbagai merek kendaraan baik itu motor maupun mobil memiliki komunitas. Komunitas yang dimaksud adalah para pemakai kendaraan tertentu yang membentuk suatu kelompok atas satu kesamaan ketertarikan / interest dan memiliki visi-misi. Tidak aneh lagi kita melihat berbagai macam
singkatan yang tertulis dalam bentuk sticker ditempel di body kendaraan tersebut untuk memperlihatkan “aku klub ini loh”, dan sebagainya hingga penomoran kendaraan berdasarkan nomor anggota di kelompoknya.

Komunitas mobil maupun motor, baik itu secara klub utuh (fisik) tetapi ada juga yang virtual berupa mailing list. Diawali dari surat-menyurat melalui mailing list, hingga akhirnya saling tatap muka (kopi darat/kopdar), sehingga membuat bertambahnya keakraban antar anggota di dalam komunitas tersebut. Itulah hebatnya Internet yang dapat menyatukan banyak orang tanpa peduli jarak dan waktu.

MANFAAT KOMUNITAS BAGI ANGGOTA

Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari suatu komunitas. Apalagi jika pengurus komunitas itu bisa membuat agenda kegiatan yang bermanfaat bagi anggotanya. Antara lain:

– Plant Tour / Kunjungan ke Pabrik:
Kunjungan ke pabrik dapat memberikan informasi yang sangat berguna bagi pesertanya tentang bagaimana produk kendaraan yang mereka biasa pakai itu dirakit dan di test sebelum dijual ke publik. Atau juga kunjungan ke pabrik komponen mobil, misalnya Ban, Accu, dan lain-lain. Tanpa disadari, dengan melihat sendiri bagaimana kendaraannya dirakit, akan meningkatkan kecintaannya terhadap produk tersebut.

– Tips & Konsultasi Teknis:
Sharing / saling berbagi ilmu yang berkaitan dengan hal teknis kendaraan sangat membantu antar anggota. Bahkan di dalam suatu mailing list, antar anggota bisa bertanya tentang masalah teknis pada kendaraannya, kemudian dijawab ramai-ramai oleh anggota mailng list tersebut. Tanpa disadari yang akan berkembang adalah seluruh anggota di komunitas itu (Community Development). Semua menjadi ikut pandai.
– Workshop / Ngoprek Bareng:
Beberapa klub melakukan hal ini. Jelas ini bermanfaat untuk pesertanya. Anggota yang awam tentang mesin menjadi mengerti bagaimana merawat dan memperbaiki sendiri kendaraannya apabila terjadi masalah ringan atau dalam kondisi darurat. Sekaligus tentunya bisa menghemat biaya ke bengkel.

– Sosialisasi Safety Riding/Driving:

Peserta dibekali pengetahuan mengemudi yang benar dan aman agar selamat selama di jalan. Melalui pelatihan Safety Riding maupun Safety Defence Driving peserta menjadi lebih dewasa selama berkendara di jalan, tahu kapan harus mengalah, bagaimana menghindari kecelakaan, bagaimana mengatasi / mengendalikan kendaraan dalam kondisi darurat dan sebagainya.

– Jual-Beli:
Ini juga seru, dimana antar anggota bisa saling menjual-beli komponen maupun asesoris mobil maupun motor. Tidak heran apabila banyak juga disusupi oleh penjual/pedagang, bahkan spam (di mailing list).

– Merchandise:
Komunitas / klub itu sendiri juga bisa menghidupi biaya operasional dari biaya administrasi (registrasi pendaftaran anggota) maupun dari dibuatnya merchandise inisial dari komunitas tersebut. Mulai dari kaos, topi, jaket, pin baju, bendera kecil dan lain-lain.

MANFAAT KOMUNITAS BAGI PRODUSEN KENDARAAN

Produsen kendaraan perlu jeli melihat komunitas-komunitas yang ada khususnya yang menggunakan produknya. Walaupun produknya sudah tidak diproduksi lagi, produsen tetap perlu menjaga kesetiaan pengguna (user) terhadap merek dari produk tersebut.

– Kesetiaan terhadap Merek Kendaraan:
Beberapa produsen/ pemegang merek masih ada yang kurang memperhatikan atau kurang menjalin kerja sama dengan komunitas yang ada, mungkin karena produk yang dipakai oleh para komunitas tersebut jenis/ model nya sudah tua. Hal ini kurang tepat, karena bukan tidak mungkin pengaruh mereka (komunitas) terhadap lingkungannya cukup besar, yaitu mampu meyakinkan lingkungannya bahwa merek tersebut adalah baik dan handal, sehingga secara otomatis mampu membuka peluang penjualan produk baru dari merek tersebut.

– Ajang Promosi:
Melalui kerjasama / partisipasi di dalam kegiatan suatu komunitas, produsen dapat melakukan kegiatan promosi. Untuk Komunitas adalah suatu hal yang saling menguntungkan, dan untuk produsen kegiatan promosi menjadi fokus dan tepat guna.

– Alokasi Masalah:
Hal yang penting bagi produsen untuk ikut turut masuk melebur dalam suatu komunitas atau mailing list adalah mendengarkan keluhan atau permasalahan yang dialami anggota komunitas tersebut. Akan lebih baik lagi apabila produsen dapat membantu menjawab masalah teknis tersebut secara langsung.

– Meramaikan Acara:
Apabila produsen melansir suatu kendaraan baru, akan lebih baik jika komunitas yang ada diundang, sehingga terjalin hubungan yang baik antara pengguna (komunitas) dengan produsen. Bukan tidak mungkin anggota komunitas tersebut kemudian membeli produk baru tersebut.

Suka maupun duka kita bisa lalui dalam suatu komunitas. Banyak manfaat yang kita peroleh dari komunitas yang kita ikuti, dan yang lebih berharga adalah bertambahnya teman dan sahabat dalam hidup kita.
Keep The Brotherhood’s Spirit Alive!

Safety Riding

Pernahkah anda peduli pada alat keselamatan berkendara yang anda gunakan? Benarkah protektor berkendara yang digunakan bikers saat ini bisa menyelamatkan pada saat-saat kritis?

Tentu saja sebagian kematian atau luka-luka yang disebabkan oleh kecelakaan berasal dari kelalaian semata. Lupa mengancing helm, adalah contohnya. Namun bila segala atribut keselamatan telah terpasang sebagaimana mestinya, hanya kualitas protektor itulah yang menjadi andalan kita saat saat kritis, bukan?

fox-07-tracker-boot.jpg

Saat ini mode dan kesadaran bikers mengenai pentingnya alat keselamatan berkendara sudah sedemikian berkembang. Wujudnya berupa digunakannya berbagai atribut keselamatan berkendara, baik pada kendaraan maupun pada bikers itu sendiri. Tidak kurang dana yang dikucurkan mencapai ratusan hingga jutaan rupiah hanya untuk menebus sebuah helm, misalnya. Juga butuh banyak waktu guna memperbaiki settingan sepeda motor agar tetap aman dan nyaman dikendarai. Pada kendaraan, alat-alat yang terpasang lebih sering kita sebut sebagai asesori dan alat bantu berkendara. Sementara pada bikers, sering disebut safety gear atau protektor.

Khusus untuk bikers, berbagai alat keselamatan utama dan pertama adalah penggunaan helm yang baik. Pengaman berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah sepatu bikers (boot), jaket, sarung tangan, dan protektor punggung (back protector). Belum lagi berbagai kelengkapan tambahan yang kemudian tergolong sebagai asesori bikers.

evs_vision2_200.jpg

Namun tampaknya peningkatan kesadaran bikers tersebut lebih banyak dimanfaatkan oleh para produsen guna meraih keuntungan. Banyaknya atribut keselamatan yang tidak memiliki spesifikasi standar keselamatan kini beredar luas. Masih beredarnya helm-helm yang gampang pecah saat terjadi benturan, peredaran kaca helm yang mudah buram dan cembung, boot bikers yang solnya licin, kaku, dan mudah pecah, boot yang mudah dirembesi air atau sobek, hanyalah contoh kecil dari safety gear yang tidak standar.

Lalu apa standar alat-alat keselamatan tersebut?

Saat ini di Indonesia, standar penggunaan alat-alat keselamatan berkendara masih minim. Mungkin ada di antara anda yang pernah menemukan standar keselamatan seperti apa yang di pakai di sini? Kita sepertinya hanya mengenal SNI (Standar Nasional Industri) yang lebih merujuk pada standar produksi. Beberapa produk yang beredar di pasar, malah menggunakan standar lain dari luar negeri, misalnya, DOT (Departemen of Transportation) Amerika Serikat.

helmet_605.jpg

Pencantuman logo SNI dan DOT pada helm merupakan suatu kemajuan. Namun pernakah ada yang melakukan pengecekan mengenai validitas penggunaan logo-logo tersebut. Jika benar sudah valid, sudah seberapa benar logo tersebut digunakan sesuai peruntukannya. Juga seberapa jauh tingkat prestasi yang diraih berdasarkan pemeringkatan standar keselamatan. Jika anda membeli mobil-mobil berkualitas seperti sedan, misalnya, anda akan menemukan penjelasan bahwa Honda Civic terbaru meraih 5 bintang (tertinggi) untuk aspek keselamatan yang diberikan oleh Komisi Keselamatan Transportasi Eropa. Apakah hal yang sama berlaku pada protektor keselamatan yang banyak beredar sekarang?

Melihat banyaknya produk keselamatan bikers yang dijual di pasar saat ini, sudah saatnya kita lebih kritis. Tidak saja barang-barang yang dijual perlu uji kualitas, namun juga membutuhkan penjelasan mengenai tingkat akreditasi yang diraih. Validitas ini penting agar bikers yang sudah mempercayakan hidupnya pada alat-alat ini, benar-benar terselamatkan pada saat terjadi kecelakaan. Bisa dibayangkan jika seorang bikers yang terlempar dari motor saat kecelakaan justru mendarat dengan kepala di atas aspal hanya karena klip atau jahitan tali helmnya putus terlebih dahulu. Siapa yang bertanggungjawab dan siapa yang kemudian disalahkan? Jangan sampai hal ini terjadi, dan jangan sampai anda menyalahkan sang pengendara motor saat kefatalan justru terjadi akibat protektor keselamatan yang disfungsional.

ETIKA BERMOTOR

ETIKA BERMOTOR
Filed under: OPINI & BERITA

Jangan mengekor
Jangan menempel terlalu dekat dengan kendaraan di depan, Berbahaya! Kecuali Anda berniat jadi stiker yang nempel di bumper kendaraan orang lain. Motor brother akan lebih cepat dan mudah melewati kendaraan di depan kalau punya cukup ruang untuk berakselerasi sebelum masuk ke jalur berlawanan.

Antri di Lampu Merah, Belakang Garis Putih
Seringkali di persimpangan lampu merah puluhan motor bergerombol di barisan depan dan tidak sabaran. Akhirnya maju perlahan dan menunggu jauh di depan garis batas atau bahkan menerobos, mengabaikan begitu saja lampu lalu lintas yang masih menyala merah. Padahal hal ini sangat berbahaya dan seringkali memakan korban tabrakan adu kambing (muka dengan muka). Jadi antrilah dengan sabar dilampu merah, menunggu giliran jalan dan jangan lupa, dibelakang garis putih!

Sabar, Bung !
Kalau ada yang berhenti mendadak di depan kita, sabar…! Jangan langsung menendang atau meninju kendaraan itu. Lihat dulu kenapa dia berhenti mendadak. Mungkin di depan ada orang menyebrang tiba-tiba atau ada motor yang terpeleset. Kalau mobil atau motor depan tidak mengerem mungkin ada peristiwa pilu yang akan terjadi.

Kasih Jempol, Say Thanks

Biasakan berterima kasih. Ketika sebuah mobil memberi jalan atau melambat untuk membiarkan Anda lewat atau mengalah di sebuah persimpangan, tunjukkan bahwa Anda menghargainya. Berikan jempol sebagai tanda terima kasih! Bahkan walaupun Anda tidak tahu apakah mereka sengaja atau tidak. Setidaknya, berterima kasih itu gratis, tidak perlu biaya. Kalau Anda tidak mau melakukan untuk orang lain, lakukan itu untuk ibu Anda. Buat semua orang tahu kalau ibumu sukses membesarkan anak yang tahu sopan santun.

Jaga Jarak
Jagalah kelancaran lalu lintas. Jaga jarak dan berikan ruang untuk mobil yang akan masuk ke jalur searah Anda atau mobil yang akan pindah jalur (terutama mereka yang menggunakan lampu sein. Lambat laun orang-orang akan mulai merasa lega saat melihat pengendara motor, ketimbang merasa tegang.

Tolong Menolong
Cara mudah untuk mengubah image negatif menjadi positif bagi pengendara
motor adalah tawarkan bantuan pada sesama pengendara motor yang mengalami kesulitan, apalagi jika sang bikers adalah rekan komunitas bikers meski tidak satu bendera dengan kita. Paling tidak, Anda sudah sangat membantu hanya dengan menghubungi orang yang bisa membantu mereka. Malah mungkin keahlian Anda mengalahkan mekanik-mekanik yang mata duitan atau suatu hari bisa membuka bisnis ERA (Emergency Road Assistance).

Memberi Salam dengan Klakson

Bagi anda yang tergabung di komunitas Bikers, ada semacam etika mengenai salam persahabatan ketika saling bertemu di jalan. Jika bertemu rekan komunitas bikers lainnya perlambat kecepatan dan berikan salam atau minimal dengan klakson, sebagai tanda persahabatan. Lebih enak rasanya berkendara ketika kita memiliki teman seperjalanan sehingga bisa saling membantu jika ada masalah. Namun jika salam atau klakson tak dibalas, positif thinking saja mungkin klaksonnya sedang mati, atau sedang berkonsentrasi melihat gadis cantik di pinggir jalan.

Tanggung Jawab
Sejak tadi yang kita baca adalah sekedar langkah sederhana. Dasarnya, semua langkah itu adalah mengenai bermotor dengan bertanggung jawab. Diatas langkah-langkah tersebut adalah etika. Kita semua tahu, situasi di jalan raya seperti di hutan belantara. Tunjukkan bahwa sebagai salah satu Raja Belantara tersebut, kita sanggup menunjukkan sedikit terima kasih, toleransi dan menahan diri.

Donor Darahdsc00218.jpgcopy-of-s6000321.jpg

Blog ini di buat untuk tukar menukar informasi.Mudah-mudahan blog ini dapat menjadi media positif sebagai ajang silaturahmi, tukar menukar pendapat, pengalaman dan menjalin persaudaraan antar sesama biker dimana pun berada.

Ada anggapan bahwa seseorang yang fanatik akan sebuah merk adalah seseorang yang buta akan informasi ataupun perkembangan teknologi. Anggapan tersebut bisa saja benar, tetapi bisa saja salah. Tergantung dari situasi dan kondisi serta fungsi motor itu sendiri. Berikut beberapa alasan yang menyebabkan seseorang menjadi fanatik brand/merk dari berbagai sudut pandang.

Fanatik Karena Faktor Sugesti

Faktor ketidak tahuan menjadi penyebab seseorang menjadi fanatik seperti ini. Namun tidak juga mengesampingkan faktor dimana produk tersebut sebelumnya telah berhasi memproduksi sebuah produk yang luar biasa sempurna sehingga menjadi sebuah benchmark tersendiri. Gaung kehebatan produk tersebut ternyata sangat luas bahkan sampai membayangi produk suksesornya. Bahkan untuk kalangan konsumen awam nama besar produk tersebut menjadi sebuah nilai plus hingga dapat membuat konsumen tersebut mengesampingkan faktor lain semisal performa sebagai nilai pembanding. Produk yang memiliki penggemar fanatik dalam kategori ini tak lain adalah Honda. Namun kemampuan produsen menjaga mutu produk merupakan faktor vital tersendiri, termasuk juga menjaga nilai jual kembalinya

Fanatik yang menjadi sebuah Brand Cult

Fanatik yang seperti ini merupakan fanatik yang sulit di ganggu gugat. Biasanya fanatik seperti ini menjangkiti bikers yang telah mapan, terutama secara ekonomi. Umumnya bagi bikers yang sudah berada pada tingkat fanatik seperti ini mereka tidak akan memikirkan faktor ekonomis, tetapi bagi mereka motor dari brand tersebut adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup mereka karena antara bikers dan motornya memiliki sebuah ikatan emosional. Biasanya brand yang telah menjadi sebuah Cult adalah berasal dari Amerika dan Eropa semisal Harley-Davidson, BMW Motorrad dan Ducati. Sebagai tambahan biasanya justru bikers seperti ini malah terbilang jarang menggunakan motor kesayangan mereka sebagai kendaraan oprasional harian, dan cenderung menggunakan kendaraan lain sebagai alat transportasi utama. Mmm Bikers apa bukan sih

Fanatik Karena Warisan Turun Temurun

Biasanya, fanatik brand seperti ini hanya terjadi bila seorang bikers memiliki hubungan yang erat dengan orang tuanya. Ditambah lagi para “leluhurnya” memiliki tangan dingin dan apik dalam merawat sepeda motor kesayanganya. Tidak aneh bila menemukan motor yang sama telah berpindah sampai tiga generasi dalam kondisi sempurna. Umunya motor yang paling sering menjadi motor warisan adalah dari jenis Piaggio Vespa. Classic!

Fanatik Karena Ciri Khas Tertentu

Bila sebuah brand memiliki ciri khas tertentu semisal Performa ataupun reabilitas, maka konsumen akan memilih brand tersebut di banding brand lainya, meski brand kompetitornya menawarkan performa maupun harga yang lebih kompetitif umumnya konsumen tetap memilih brand tersebut. Disamping itu, dengan memiliki ciri khas tersebut secara tidak langsung brand motor tersebut memiliki daya getar lebih dibanding brand motor lainya. Di indonesia brand Kawasaki dan Yamaha menjadi contoh paling jelas.

Sisi Positif dan Negatif Fanatik Terhadap Suatu Brand

Apapun bila dilakukan secara teratur dan tekun pastinya akan membuahkan hasil. Sama seperti seseorang yang secara konstan menggunakan sebuah produk dari brand yang sama. Faktor pertama adalah bikers tersebut akan memahami seluk beluk motor tersebut, baik dari karakter mesin maupun cara merawat motor tersebut secara efisien dan praktis. Faktor kedua adalah kepuasan dan ikatan emosional antara bikers dan motornya. Akhirnya sebagai mana pasangan suami-istri seorang bikers dan motor dari brand tersebut menjadi sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Ikatan emosional seperti ini membuat bikers tersebut akan lebih merawat motornya secara maksimal.

Bila sebuah produk tidak lagi mampu menawarkan keunggulan dibanding produk lainya, sepertinya bikers tersebut seharunya tidak lagi menggunakan motor dari brand tersebut. Apalagi bila disangkut pautkan dengan faktor ekonomis dan efisiensi. Tetapi karena tingkat kefanatikan dengan brand tersebut cukup tinggi bukan tidak mungkin walau sudah tidak kompetitif produk dari brand tersebut masih terus digunakan. Effeknya adalah disamping pemborosan dan dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan konsumen dalam memilah dan menilai sebuah produk. Tergantung dari mana melihatnya sih

Beberapa hari lalu saya membaca artikel di Internet bahwa di dunia saat ini ada sekitar 32 juta blog, dan jumlah itu akan terus bertambah.

Namun, menurut artikel itu hanya sebagian kecil dari jutaan blog itu yang worth to read, sisanya disebut sebagai hasil dari people who need to go out more.

Kenyataan itu dikatakan oleh The Times karena dengan punya blog tidak otomatis menjadikan seseorang menjadi good writer.

Meskipun blogging bisa menjadi sarana untuk belajar menulis.

Saya ingat komentar seorang blogger, “Bagaimana pun akan kelihatan blog yang dibuat oleh seorang yang biasa/bisa menulis,” katanya yang sering membuatnya minder sebagai seseorang yang tidak biasa menulis.

“Nggak bisa menulis juga tidak apa-apa, justru dengan blogging membiasakan diri untuk menulis, “saya menjawab saat itu.

Jangankan blogger amatir seperti saya, Jacob Oetama, orang nomor satu Kelompok Kompas Gramedia, mengatakan bahwa wartawan Kompas banyak yang belum bisa menulis.

Sementara Goenawan Mohamad dari Grafiti Pers, yang menguasai kelompok Tempo dan Jawa Pos, mengatakan ia tak pernah punya “lebih dari 10 orang penulis” di majalah Tempo. (andreasharsono.blogspot.com)

Tentu banyak blogger yang tidak setuju dengan artikel The Times itu, bahkan mungkin tersinggung disebut sebagai need to go out more.

Setelah membaca artikel itu saya merenung, apakah saya termasuk dalam kategori people who need to go out more, yang tidak punya kerjaan lain yang lebih penting atau friendless, tidak punya banyak teman?

Saya mengerti benar keberadaan blog, dan termasuk yang mengenal blog di awal-awal teknologi blog itu muncul.

Beberapa kali saya membuat blog, karena memang ia senang mengutak-atik sesuatu yang berhubungan dengan komputer/internet.

Tapi sebatas itu saja, membuat blog. Ia biasanya akan begadang satu atau dua malam, voila terciptalah blog baru.

Namun ia tidak akan meneruskan blognya itu. Bukannya tidak ingin tetapi tidak punya waktu untuk ngeblog, apalagi kalau sudah menyangkut blogwalking.

Dari mulai jalan-jalan/spending time dengan anak-anak hingga kegiatan-kegiatan lain yang kadang justru membuatku lebih sibuk .

Benar juga, saya pikir. Dimana punya waktu untuk blogging apalagi blogwalking.

Meskipun saya tidak terputus sama sekali dengan dunia blog, ia masih membaca beberapa blog dalam kapasitas sebagai ‘mencari/mengikuti informasi’ seperti halnya ia membaca koran/majalah atau menonton TV.

Karena itu saya membatasi membaca blog yang berkategori worth to read. Ia, dengan ketrebatasan waktu yang dimiliki, tidak bisa menempatkan blog sebagai sarana ‘mencari teman’.

Jangankan mencari teman baru di internet, dengan teman yang di alam nyata saja stuggling untuk terus bersilaturahmi atau sekedar keep in touch“,

Ketika berada di Jakarta tahun lalu seorang teman mengirim SMS,yang cukup mengagetkan, berupa keluhan atas temannya yang lain, “Istriku tersinggung, masa sih dia tidak punya waktu nemenin dia belanja untuknya , tapi malah sibuk kopdar dengan teman-temanya di internet yang cuma ia kenal lewat shoutbox”.

Teman yang mengirim SMS itu juga seorang blogger, bagaimana dengan teman-teman kita yang bukan blogger?

Kalau tidak punya waktu di luar jam kantor, bagaimana dengan blogging di jam kantor, banyak kok yang blogging dari kantor? Tanya saya pada temen,masih mencari alasan untuk membuktikan he just lazy.

I don’t know how they do it, tetapi saya tidak punya waktu untuk blogging di kantor,”jawabku.

Aku justru heran dengan orang yang bisa blogging di kantor, “Apa dia tidak punya kerjaan di kantor?”dan “Tidak kah mereka merasa bersalah, digaji tapi tidak bekerja?”

Point taken.

Bagus bagi kita yang punya waktu dan sarana untuk terus blogging. Namun jangan membuat kita mengorbankan aktivitas/kewajiban yang lain,keluarga,teman, atau pun tetangga.

We don’t owe anyone anything, kita mau blogging atau tidak atau kita mau up date blog kita atau tidak.

Kita tidak perlu merasa bersalah jika every now and then menghilang/cuti dari dunia blog atau ‘menelantarkan’ blog kita.

Setiap kali saya tahu seseorang pamit sejenak dari blogging, saya justru senang, artinya dia punya sesuatu yang lebih penting dari sekedar blogging.

Menghilang tanpa pamit pun tidak apa-apa.

Karena itu, sejak dulu saya senang jika sebagian besar teman-teman saya tidak blogging. Saya terselamatkan dari kemungkinan menjadi sumber cerita di blog mereka, juga more importantly saya senang mereka tidak termasuk people who need to go out more.

Meskipun saya juga senang banyak teman saya yang blogging.

saya tidak blogging bukan karena lazy, begitu juga teman-teman saya,tidak blogging bukan karena malas dan bukan pula karena mereka buta teknologi blog.

And definitely mereka tidak blogging bukan karena tidak bisa menulis.

Administrator :